Udah pada tau yang namanya Toxoplasma gondii
belum??
Kalau belum pada tau, nih ane share buat dikit buat
agan-agan, sohib-sohib, dan kawan-kawan sekalian
Sehubungan dengan tugas Kesehatan Masyarakat ane
yang nyangkut soal isu kesehatan lingkungan.
Karena ane suka kucing nih, mas-mas dan mbak-mbak..
Jadinya ane ambil ini tema karena suka dihubung-hubungin sama si kucing yang
manis sekali
A. Definisi Toksoplasmosis
Toksoplasmosis (toxo) adalah infeksi yang
disebabkan oleh parasit bersel tunggal yang disebut Toxoplasma gondii. Infeksi paling umum didapat dari kontak
dengan kucing-kucing dan feces mereka atau daging mentah atau yang kurang
masak.
Toksoplasma baik dalam sel monosit, dalam sel-sel
sistem reticulo endoteleal, sel alat tubuh visera,l maupun dalam
sel-sel syaraf membelah diri menjadi 2,4 dan seterusnya. Setelah sel yang
ditempatinya penuh lalu pecah parasit-parasit menyebar melalui peredaran darah
dan hinggap di sel-sel baru dan demikian seterusnya.
Toxoplasma
gondii mudah mati karena suhu panas,
kekeringan dan pembekuan. Cepat mati karena pembekuan darah induk semangnya dan
bila induk semangnya mati jasad inipun ikut mati. Toksoplasma membentuk
pseudocyste dalam jaringan tubuh atau jaringan-jaringan tubuh hewan yang
diserangnya secara kronis. Bentuk pseudocyste ini lebih tahan dan dapat
bertindak sebagai penyebar toksoplasmosis.
Toxoplasma
gondii terdapat dalam 3 bentuk yaitu
bentuk trofozoit, kista, dan ookista. Trofozoit berbentuk oval dengan ukuran
3-7 µm, dapat menginvasi semua sel mamalia yang memiliki inti sel. Dapat
ditemukan dalam jaringan selama masa akut dari infeksi. Bila infeksi menjadi
kronis trofozoit dalam jaringan akan membelah secara lambat dan disebut
bradizoit.
Bentuk kedua adalah kista yang terdapat dalam
jaringan dengan jumlah ribuan berukuran 10-100 µm. Kista penting untuk
transmisi dan paling banyak terdapat dalam otot rangka, otot jantung dan susunan
syaraf pusat. Bentuk yang ke tiga adalah bentuk ookista yang berukuran 10-12
µm. Ookista terbentuk di sel mukosa usus kucing dan dikeluarkan bersamaan
dengan feses kucing. Dalam epitel usus kucing berlangsung siklus aseksual atau
schizogoni dan siklus atau gametogeni dan sporogoni. Yang menghasilkan ookista
dan dikeluarkan bersama feses kucing.
Kucing yang mengandung Toxoplasma gondii dalam sekali ekskresi akan mengeluarkan
jutaan ookista. Bila ookista ini tertelan oleh hospes perantara seperti manusia,
sapi, kambing, atau kucing maka pada berbagai jaringan hospes perantara akan
dibentuk kelompok-kelompok trofozoit yang membelah secara aktif. Pada hospes
perantara tidak dibentuk stadium seksual tetapi dibentuk stadium istirahat
yaitu kista. Bila kucing makan tikus yang mengandung kista maka terbentuk
kembali stadium seksual di dalam usus halus kucing tersebut.
B. Epidemiologi toksoplasmosis
Prevalensi
zat anti Toxoplasma
gondii pada binatang di
Indonesia adalah sebagai berikut, 35-73% pada kucing, 11-36% pada babi, 11-61%
pada kambing, 75% pada anjing, dan kurang dari 10% pada ternak lain.
Prevalensi
toksoplasmosis kongenital di berbagai negara
diperkirakan sebagai berikut : Nederland 6,5 dari 1000 kelahiran hidup, New
York 1,3%, Paris 3%, dan Vietnam
6-7%.
Keadaan
toksoplasmosis di suatu daerah ditentukan oleh banyak faktor, seperti kebiasaan makan daging kurang matang, adanya kucing yang
terutama dipelihara sebagai hewan kesayangan, adanya tikus dan burung yang
sebagai hospes perantara, adanya lipas atau lalat yang sebagai vektor untuk memindahkan ookista dari tinja kucing.
C. Gejala klinis dan diagnosis
toksoplasmosis pada ibu hamil dan bayinya
·
Gejala klinis
Manusia yang terinfeksi parasit toksoplasma / Toxo
akut pada umumnya tidak merasakan sakit yang menarik perhatiannya sehingga
tidak terdeteksi. Gejala klinis yang muncul mirip dengan gejala klinis penyakit
infeksi pada umumnya, yaitu demam, pembesaran kelenjar limfa dileher bagian
belakang tanpa rasa sakit, sakit kepala, rasa sakit di otot, lesu / lemas.
Gejala ini biasanya sembuh secara spontan (Frenkle
1990). Strickland (1991) melaporkan 89% penderita toksoplasma akut mengalami
gejala klinis berupa demam, 84% sakit kepala dan pembesaran kelenjar limfa, 60%
sakit di otot, 54% leher kaku dan tidak nafsu makan, 20% dengan bercak- bercak
merah dikulit, 24% sakit disendi dan 11% dengan radang hati.
Toksoplasmosis akut dan reinfeksi pada wanita hamil
dapat menyebabkan penularan secara pasif bayi yang dikandung. Besarnya angka
penularan pada bayi tergantung pada usia kehamilan. Angka penularan sebesar 1%
terjadi bila wanita hamil menderita toksoplasmosis sebelum terjadi pembuahan,
12% bila usia kehamilan 6 – 16 minggu dan 20% bila usia kehamilan 16 – 28
minggu sampai saat dilahirkan.
Bayi yang dikandung oleh wanita hamil di usia
kehamilan trimester I mampu terinfeksi sebesar 25%, sedangkan diusia kehamilan
trimester III sebesar 65%.
Infeksi pada kehamilan sangat awal dapat
menyebabkan abortus dan bayi meninggal dalam kandungan. Infeksi pada kehamilan
trimester I dapat menyebabkan kelainan bawaan yang berat pada bayi, karena pada
saat itu sedang berlangsung proses pertumbuhan alat-alat tubuh. Kelainan bawaan
yang terjadi dapat berupa hidrosepalus, mikrosepalus, perkapuran otak, gangguan
syaraf seperti kejang-kejang, gangguan reflek, retandasi mental, gangguan
pengelihatan yang dapat menyebabkan kebutaan dan radang hati (Frenkle – 1990,
Kierzenbaum – 1994).
Orang yang terinfeksi parasit toksoplasma yang
kronis dapat terjadi gejala klinis berupa Korioretinitis yang dapat menyebabkan
gangguan pengelihatan, sakit kepala, Ensefalitis, bahkan lumpuh sebagian badan
(Soemarsono, 1990).
·
Diagnosis
Diagnosis
toksoplasmosis akut dapat dipastikan bila menemukan takizoit dalam biopsy otak
atau sumsum tulang, cairan serebrospinal dan ventrikel.
Tes
serologi dapat menunjang diagnosis toksoplasmosis. Tes yang dapat dipakai
adalah tes warna Sabin Feldman(“Sabin-Feldman dye test”) dan test hemaglutinasi
tidak langsung (IHA), untuk antibody IgG , tes zat anti fluoresen tidak
langsung (IFA), dan tes ELISA untuk
deteksi antibody IgG dan IgM.
Prinsip
tes warna adalah Toxoplasma yang hidup (dari cairan peritoneum tikus) bila
dicampur dengan serum normal mudah diwarnai dengan biru metilen. Tetapi bila
dicampur dengan serum kebal, parasit tidak dapat mengambil warna lagi. Titer
tes warna ialah pengenceran tertinggi dengan 50% dari jumlah Toxoplasma tidak diwarnai. Titer zat anti IgG cepat naik dan tetap tinggi selama setahun atau
lebih pada tes warna maupun tes IHA, IHF dan ELISA. Pada tes warna diperlukan
parasit hidup sehingga tes ini sekarang jarang dipakai.
Pada tes
IFA dan ELISA tidak diperlukan parasit hidup. Tes ini digunakan untuk deteksi
zat anti IgM Toxoplasma.
Adanya zat anti IgM pada neonatus menunjukkan bahwa zat anti ini dibuat oleh janin yang
terinfeksi dalam uterus, karena zat anti IgM dari ibu yang berukuran lebih
besar tidak dapat melalui plasenta, tidak seperti halnya zat anti IgG. Maka
jika ditemukan zat anti IgM .Toxoplasma
pada neonatus, diagnosis toksoplasmosis kongenital sudah dapat dipastikan.
Tes
serologik tidak selalu dipakai untuk menegakkan diagnosis toksoplasmosis akut
dengan cepat dan tepat. Karena IgM tidak selalu dapat ditemukan pada neonatus, atau karena IgM dapat ditemukan selama berbulan-bulan, bahkan smapai
lebih dari setahun. Sedangkan pada penderita imunodefisiensi tidak dibentuk IgM
dan tidak dapat ditemukan titer IgG yang meningkat.
Akhir-akhir
ini dikembangkan PCR untuk deteksi DNA yang dapat memberikan diagnosis dini
yang cepat dan tepat untuk toksoplasmosis kongenital prenatal dan postnatal.
D. Cara penularan toksoplasmosis
Selain dari ibu ke anak, toksoplasmosis tidak
menular lewat kontak antarmanusia. Berikut adalah sumber utama penularan
toksoplasmosis:
- Sekitar 50% penularan infeksi toksoplasma terjadi karena memakan daging yang kurang matang. Toksoplasma dapat bertahan hidup bila daging dipanaskan kurang dari 66 derajat celcius.
- Kontak dengan kucing dan kotorannya. Kucing adalah satu-satunya hewan yang dapat menularkan toksoplasma lewat kotoran. Ketika kucing memakan daging mentah mangsanya atau terkena kotoran kucing lainnya yang sudah terinfeksi, kuman toksoplasma akan masuk melalui mulut atau lidahnya sewaktu membersihkan diri. Setelah berkembang biak di dalam tubuh kucing tersebut, kuman toksoplasma akan mengeluarkan benih (oosit) melalui kotoran. Dalam satu kali buang kotoran, kucing yang terinfeksi dapat mengeluarkan jutaan benih toksoplasma yang hanya bisa dilihat melalui mikroskop. Benih tersebut akan menjadi dewasa setelah 24 jam dan terus bertahan hidup di tanah, pasir atau kotoran hingga 18 bulan.
- Ketika seseorang mengelus-elus kucing atau berkebun di taman dan kemudian lupa menyeka muka dengan tangan, kuman toksoplasma dapat memasuki tubuh melalui mulut, hidung dan mata Anda.
- Sumber penularan lainnya adalah sayuran/buah yang dicuci kurang bersih, air dan susu segar yang terkontaminasi.
- Infeksi juga dapat terjadi di laboratorium bila seseorang bekerja dengan hewan percobaan yang terinfeksi T.gondii, melalui jarum suntik atau alat laboratorium lain.
- Infeksi dapat terjadi dengan transplantasi organ dari donor yang menderita toksoplasmosis.
- Tranfusi darah lengkap juga dapat mengakibatkan infeksi.
Setelah ookista atau kista jaringan ditelan
manusia, nasib parasit akan ditentukan oleh keadaan kekebalan tubuh penderita :
- Apabila keadaan kekebalan tubuh baik, maka parasit di dalam sel yang berbentuk bradyzoite akan mati. Parasit dan sel tubuh yang mati ini akan menimbulkan reaksi radang menahun ringan seperti berkumpulnya sel limfosit dan makrofag.
- Pada individu yang tidak mempunyai kekebalan tubuh atau kekebalan tubuhnya sangat rendah maka parasit yang ada didalam sel tersebut akan berkembang dengan cepat sehingga sel akan rusak. Dalam hal seperti ini akan banyak ditemukan kerusakan sel dengan parasit di sekitarnya dan reaksi radang. Pada keadaan seperti ini, timbul gejala klinis.
- Apabila keadaan kekebalan tubuh ada, tetapi tidak cukup untuk mematikan, bradyzoite akan tetap berada didalam sel berupa kista yang tidak menimbulkan reaksi jaringan. Keadaan ini bisa berlangsung lama. Bila suatu saat keadaan yang laten ini dapat berubah menjadi infeksi yang akut.
E. Pengaruh toksoplasmosis dengan
ibu hamil dan janinnya
Pusat-pusat pengontrol dan pencegah penyakit
Amerika (CDC) memperkirakan bahwa lebih dari 60 juta orang-orang di Amerika
mungkin membawa parasit toksoplasma. Namun hanya sangat sedikit yang mempunyai
gejala-gejala karena sistim imun yang sehat biasanya menjaga parasit-parasit
dari menyebabkan penyakit.
Parasit toksoplasma merupakan salah satu jenis
parasit TORCH (toxoplasma, rubella, cytomegalo, dan herpes virus) yang
berbahaya terutama untuk wanita hamil. Suatu penyakit infeksi yang disebabkan
oleh protozoa yang tergolong dalam coccidia. Sebagai haspes definitif parasit
ini adalah kucing, sedangkan manusia sebagai haspes perantara.
Satu hal yang juga perlu dicermati adalah bahwa
penyakit ini tidak mengenal gender, artinya ia tidak saja menginfeksi wanita
tapi kaum pria pun tidak sedikit yang terinfeksi. Penyakit ini pada umumnya
tergolong penyakit yang asimptomatis, maksudnya tidak menampakkan tanda-tanda
klinis pada korban yang terinfeksi.
Pada umumnya infeksi toksoplasma tidak menimbulkan
gejala apa pun, namun pada ibu hamil infeksi tersebut dapat berisiko menyerang
plasenta dan janin.
Penderita toksoplasmosis tidak selalu menyebabkan
kemandulan atau keguguran pada janin, tapi bisa juga menyebabkan radang
paru-paru, hydrocephalus, gangguan penglihatan sampai kebutaan.
Tetapi sering pula tidak menimbulkan gangguan apa-apa. Biasanya toksoplasmosis
akan menampakkan gejala klinis jika ada interkurensi infeksi, misalnya dengan
virus atau protozoa lain atau pada kondisi stres dan immunosupresi (penurunan
daya tahan tubuh, seperti pada penderita kanker dan AIDS).
Meskipun hanya sekitar 1 dari 10.000 bayi terkena
toksoplasmosis, namun infeksi tersebut perlu diwaspadai. Infeksi toksoplasma
pada bayi (congenital toxoplasmosis) dapat menyebabkan gangguan fungsi otak,
mata, ginjal, jantung dan lainnya. Dalam jangka panjang, bayi dapat tumbuh
menjadi anak yang buta, tuli dan terbelakang mental.
Sekitar 10-15% wanita hamil memiliki kekebalan
alami terhadap toksoplasmosis karena dalam tubuhnya telah terbentuk serum
antibodi dari infeksi sebelumnya. Sejumlah lainnya yang tidak memiliki
kekebalan memang rentan terkena, namun kemungkinan terinfeksi juga biasanya
rendah. Tambahan lagi, tidak semua ibu hamil yang terkena toksoplasmosis
menularkan ke bayinya. Bila calon ibu terjangkiti toksoplasma pada trimester
pertama kehamilan, kemungkinannya 15% bahwa dia akan menularkannya ke bayi.
Semakin tua usia kehamilan, semakin besar risiko penularan, hingga mencapai 60%
bila calon ibu baru terinfeksi di trimester ketiga. Namun di sisi lain, semakin
tua usia bayi juga semakin kuat dia dalam melawan infeksi. Infeksi
toksoplasmosis menimbulkan risiko terbesar pada usia kehamilan 10-24 minggu.
F. Upaya menanggulangi
toksoplasmosis
·
Pencegahan
Terdapat beberapa pencegahan yang dapat dilakukan
untuk menghindari penyakit toksoplasmosis, antara lain (Chin, 2000):
1. Mendidik
ibu hamil tentang langkah-langkah pencegahan:
a. Gunakan iradiasi
daging atau memasak daging pada suhu 1500F (660C) sebelum dimakan. Pembekuan
daging tidak efektif untuk menghilangkan Toxoplasma gondii.
b. Ibu hamil sebaiknya
menghindari pembersihan sampah panci dan kontak dengan kucing. Memakai sarung
tangan saat berkebun dan mencuci tangan setelah kerja dan sebelum makan.
2. Makanan kucing sebaiknya
kering, kalengan atau rebus dan mencegah kucing tersebut berburu (menjaga
mereka sebagai hewan peliharaan dalam ruangan)
3. Menghilangkan feses
kucing (sebelum sporocyst menjadi infektif). Feses kucing dapat dibakar atau
dikubur. Mencuci tangan dengan bersih setelah memegang material yang berpotensial
terdapat Toxoplasma
gondii.
4. Cuci tangan sebelum makan
dan setelah menangani daging mentah atau setelah kontak dengan tanah yang
mungkin terkontaminasi kotoran kucing.
5. Kontrol kucing liar dan
mencegah mereka kontak dengan pasir yang digunakan anak-anak untuk bermain.
6. Penderita AIDS yang telah terserang
toksoplasmosis dengan gejala yang parah harus menerima pengobatan profilaksis
sepanjang hidup dengan pirimetamin, sulfadiazine dan asam folinic.
·
Pengobatan
Sampai saat ini pengobatan yang terbaik adalah
kombinasi pyrimethamine dengan trisulfapyrimidine. Kombinasi kedua obat ini
secara sinergis akan menghambat siklus p-amino asam benzoat dan siklus asam
foist. Dosis yang dianjurkan untuk pyrimethamine ialah 25-50 mg per hari selama
sebulan dan trisulfapyrimidine dengan dosis 2.000-6.000 mg sehari selama
sebulan.
Karena efek samping obat tadi ialah leukopenia dan
trombositopenia, maka dianjurkan untuk menambahkan asam folat dan yeast selama
pengobatan. Trimetoprimn juga temyata efektif untuk pengobatan toksoplasmosis
tetapi bila dibandingkan dengan kombinasi antara pyrimethamine dan
trisulfapyrimidine, ternyata trimetoprim masih kalah efektifitasnya.
Spiramycin merupakan obat pilihan lain walaupun
kurang efektif tetapi efek sampingnya kurang bila dibandingkan dengan obat-obat
sebelumnya. Dosis spiramycin yang dianjurkan ialah 2-4 gram sehari yang di bagi
dalam 2 atau 4 kali pemberian. Beberapa peneliti menganjurkan pengobatan wanita
hamil trimester pertama dengan spiramycin 2-3 gram sehari selama seminggu atau
3 minggu kemudian disusul 2 minggu tanpa obat. Demikian berselang-seling sampai
sembuh. Pengobatan juga ditujukan pada penderita dengan gejala klinis jelas dan
terhadap bayi yang lahir dari ibu penderita toksoplasmosis.
Kalau mau tahu lebih banyak lagi
silahkan saudara-saudara sekalian browse di link berikut:


1 comments:
bahasa yang disampaikan sangat simple dan mudah dipahami dan artikel ini sangat membantu menambah referensi untuk blog saya terimakasih alatkimia.com
Post a Comment